Friday, July 20, 2007

Anak laki atau anak perempuan?

Beberapa waktu lalu ibu bilang kalau seseorang sakit dan ibu pun keceplos,"Kasihan anaknya laki-laki semua."

Suami juga pernah cerita kalau tetangganya dulu sangat berharap salah satu anaknya adalah perempuan karena dia bilang siapa yang bakal ngurus dia kalau tua kalau bukan anak perempuannya.

Secara umum begitulah pandangan mayoritas orang terhadap anak laki dan perempuan dalam hal mengurus orang tua yang telah lanjut. Tapi bukan pula mimpi jika bahwa ada  pula anak laki yang mengurus orangtua dengan penuh kasih sayang.

Ibu Bapak mertua saya saat ini tinggal dengan adik ipar laki-laki. Bapak mertua sudah sakit-sakitan karena punya diabetes dan tekanan darah tinggi yang sudah menahun bahkan pernah kena stroke ringan. Alhamdulillah adik ipar laki-laki begitu sayang, rela membersihkan rumah, bantu cuci piring bahkan ngepel tetesan  pipis yang tak tertahan. Jarang sekali di jaman sekarang ini bisa ketemu anak laki-laki yang mau melakukan perbuatan mulia seperti ini. Semoga Allah swt memberikan banyak rewards kepada adik iparku ini.

Saya pikir pola pikir terhadap anak laki dan perempuan seperti di atas hanyalah pola pikir bangsa kita di Indonesia saja. Rupanya di Amerika pun ada pandangan yang sama. Ada teman yang ibunya yang telah menjanda sakit sehingga dia harus taking care ibunya dari mulai ke dokter, ngecek obat2annya, dsb. Dia pun bilang kalau di Ameriak pun dikenal pepatah: The son is the son until he takes a wife and the daughter is the daughter for the rest of her life.Dia pun bertanya apakah saya pernah mendengarnya? Saya pun menggeleng kepala sambil mikirin kalimat itu. Saya sebagai wife dari seorang laki-laki dan juga daughter dari seorang ibu yang masih hidup. Apakah saya telah membuat seorang anak laki-laki itu bukan lagi seperti anak bagi orang tuanya? Dan apakah saya tetap menjadi seorang anak perempuan yang memang taking care sama ibu yang masih hidup? Saya belum memikirkan terhadap anak, karena kalaupun Allah memberi karunia anak kepada saya itu sudah suatu rejeki yang saaaangat berharga... tanpa harus berharap laki atau perempuan.

Ya Allah , jadikanlah aku anak dan istri  (semoga bisa jadi orang tua) yang shaleh sehingga masih bisa menghantarkan amalan bagi kedua orang tuaku dan pendamping suami yang tak lekang menyayangi dan menjaga kedua orang tuanya.

15 comments:

  1. Duh, saya belom pernah ngurus ortu neh. sejak lulus smp, abur2an teruzzz... malah jadi ngerotin ortu terus kayaknya... :(

    ReplyDelete
  2. Kalau kata di Indonesia mah dibilang..ya beginilah kalau punya anak laki ...he..he..he..tapi khan insha Allah Kang Nang mah anak shaleh...biar abur2an tapi dekat di hati ortu he..he..he lagi

    ReplyDelete
  3. Amien teh Keu...mengaminkan doanya teh Keukeu...

    BTW re:
    The son is the son until he takes a wife and the daughter is the daughter for the rest of her life..

    =) , pepatah di atas ini ada juga loh di dalam pepatah jawa...=). tapi memang benernya sih gender biasness itu universal/mendunia banyak banget stereotyping gender-wise yang sama antara satu negara dengan negara lainnya....however, Aku pikir gak hanya anak laki-laki lah yang suka "hilang" hehehe..ada juga..tuh anak perempuan yang cuek bebek aja sama ortunya setelah menikah (audzubillah minzalik)...kan tergantung aja manusianya gimana...Hanya mungkin anak lelaki setelah menikah jadi lebih seperti "hilang/diambil" keluarga lain, karena ada kewajiban lelaki untuk menafkahi, mensupport dan mengayomi keluarganya (terutama keluarga inti), kuncinya memang di si spouse (baik istri maupun suami), untuk tetap mengingatkan dan balance dalam memperlakukan both sides parents....semoga kita semua menjadi orang-orang yang saling mengingatkan dan selalu diingatkan Allah untuk menyayangi dan mengayomi semua orangtua kita (baik mertua atau biological parents ya)...amieen

    ReplyDelete
  4. Amin ya, Rabbalalamin. Anak yang soleh:).

    ReplyDelete
  5. Kebalikan sama Islam yah : Anak perempuan itu milik suaminya, dan anak laki-laki adalah milik ibunya selamanya
    Saya baru memahami benar kemuliaan aturan itu, baru-baru ini. Mudah-mudahan nggak telat:).

    ReplyDelete
  6. Namanya juga pepatah di Amrik mbak.....yang bikin pepatahnya belum kenal Islam sich...
    Tapi kalau denger Fatimah Az Zahra dulu juga perhatian banget ama Ayahnya ....mungkin ekspresi bentuk perhatian laki ama perempuan itu yang beda sehingga sering dibandingkan.

    ReplyDelete
  7. maklum nggak ada darah jawa jadi nggak pernah dengar mbak.

    ReplyDelete
  8. Mirip aku, Keu...yang rajin nemenin Ummi justru kakak dan adik laki2ku, sementara akunya udah nyaris 9 tahun (walaupun gak terus-menerus) pisah sama beliau, sejak kuliah. Mohon doanya juga, supaya masih diberikan kesempatan untuk memberikan amalan terbaik bagi Ummi, Amiiin.

    ReplyDelete
  9. Semoga doa teh Keukeu tercapai ya...keep trying..amiin
    aku punya anaknya juga agak lama Keu..sabar,berusaha & berdoa

    ReplyDelete
  10. Rasanya gimana cara mendidiknya aja sih ya.....
    Sejak alm.suami sakit stroke berat, satu2nya anak laki saya yang tadinya tinggal di Melb. memutuskan pulang ke Bandung dan menemani saya menghadapi semua permasalahan sejak alm.sakit. Kebetulan satu anak pr. yang tadinya tinggal di Belanda juga sudah kembali ke Indonesia dan bekerja di Jakarta. Sempet sih, ayahnya sakit, 5 bulan gak kerja, tapi Allah Maha Pengasih, perusahaannya meminta dia kembali kerja malah naik pangkat dan naik penghasilannya....
    Yang bungsu(pr) masih di Melbourne, sempat pulang ke Indonesia sebulan dan berada di sisi ayahnya ketika ayahnya meninggal.
    Sejak ayahnya sakit sampai meninggalnya anak laki saya tidak mencari kerja dan sekarang mulai dari nol di Bandung dengan meninggalkan semua kehidupannya yang mapan di Melbourne. Mudah2an Allah memberi barokah pada dia dan keluarganya untuk apa yang telah diperbuatnya bagi saya dan alm.suami........

    ReplyDelete
  11. Saya ngamini do'a bu popi ya...semoga Allah memberikan banyak rejeki pada putra bu Popi yang shaleh.

    ReplyDelete