Friday, July 22, 2005

Me and my garden


Biar tanahnay sempit nggak mau rugi segala ditanam.....

my friend's children


She is adorable.

They are palestinian kids who live in Gaza now. I used to baby sit the boys. They were very active...but I love them and now I really missed them....
I hope I can meet them again.

Kado kejutan

Tahun 2002 bulan September tangal 24, waktu itu suami masih sempat untuk shalat shubuh ke masjid. Aku shalat shubuh di rumah saja sambil mempersiapkan pakaian suami ke kantor dan bekal makan siangnya. Sepulang dari masjid aku interogasi suami," Kamu pasti nyiapin hadiah ya? Khan tanggal segini 2 tahun lalu kamu ngucapin ijab kabul. Kamu khan suka bikin surprise."


Suami bilang,"Tahun ini nggak. Katanya nggak usah istimewa-istimewa dan dirayakan."


"Iya sich ....khan nggak ada sunahnya untuk merayakannya," timpalku.


Suami pun segera berangkat setelah mandi dan berpakian rapi. Giliranku menyiapkan diri untuk kerja volunteer di IPO UofA.


Aku pun berangkat dengan bis sambil merenung ....wah kata-kataku diresapi betul sama suamiku. Sejujurnya kangen juga sama setiap kadonya yang selalu dibungkus cantik kalau ingin menghadiahiku entah event apapun.


Ah...sudahlah nggak usah sentimentil pikirku ...tidak ada yang salah dari suamiku...mauku juga tidak mau membuat hari perkawinan atau ulang tahun spesial.


Hari itu aku pun bekerja sampai jam 2 siang. Teman kerjaku mengantarkanku pulang ke apartemenku.Kubuka pintu rumah....dan kusimpan tasku di sofa sambil ingin duduk istirahat. Tapi ........apa itu di atas meja makan???? Ada satu dus yang berbalutkan kertas kado cantik disertai pita ... setangkai mawar ....serta sebuah kartu ....


Aku bingung ! Siapa yang datang? Kubuka kartu dan kado cantik itu......


Oh ....ternyata suamiku.....langsung kutelepon,"Terima kasih sayang!"


Benar-benar tak kusangka dan kuduga. Kantor suamiku khan tak dekat dari apartemen komplekku. Kapan belinya tanyaku dalam hati? Tadi malam kita ke Walmart, dia tak beli apa-apa. Memanfaatkan waktu istirahat untuk belanja?Mana sempat! dia khan sibuk.


"Nggak sadar ya tadi pergi shalat shubuhnya agak lama?" Tanya suamiku sepulang dari kantor mencoba menjelaskannya padaku.


Aku pun girang bagai anak kecil yang dikasih kado. Tapi tak mungkinlah jingkrak-jingkrak karena apartemenku ada di lantai 2. Nanti temanku yang dibawah bingung kalau aku ribut.


Kado itu adalah idamanku ...aku memang selalu bilang pengen punya barang itu, tapi belum mau beli karena kebutuhan kita pun masih banyak. Terlalu mahal rasanya harga barang itu buatku. Aku tak mau menghambur-hamburkan jerih payah keringat suamiku. 


Sebuah mesin jahit putih merk "Singer" telah menambah koleksi barang rumahtanggaku. Sayang belum ada suatu karya hasil tanganku karena aku masih belajar menggunakannya dan membuat sesuatu tapi kubertekad aku tak akan mengecewakan suamiku...atas kado kejutannya itu.


 


 


 

Horeeee!!! Hari ini cuti .....

Hari ini saya di rumah. Merdeka dari kerjaan kantor tapi tidak merdeka dari kerjaan rumah.Memang sudah direncanakan kalau hari ini say aambil cuti soalnya rencananya besok Sabtu mau Garage sale....jadi hari ini beres-beres dan pricing.


Nikmatnya ....tinggal di rumah.....


Buat yang di rumah terus katanya...suntuknya di rumah terus.....


 

Lagu pelangi-pelangi


Evi bilang anaknya Rania lagi gemar nyanyiin lagu Pelangi-pelangi. Duh...lagi itu ...kayaknya semua anak Indonesia yang besar di Indonesia sich hapal.


Lagu itu diajarkan kakakku pada seorang ponakan (anaknya sepupuku) tahun 1987 yang bernama Mira. Ponakan itu pun hapal dengan lagu itu dan jadi lagu favoritnya malah. 


Suatu saat sepulang sekolah dengan dijemput pengasuhnya dan saya. Pengasuhnya dipanggil guru dikelasnya. Pengasuh pun laporan sama saya bahwa tadi Mira menyanyikan lagu Pelangi-pelangi tapi koq ada yang salah katanya. Ketika dibetulkan Mira tidak mau, Mira merasa lirik yang dinyanyikannya lirik yang paling benar.


Yang mana sich lirik yang berbeda itu?  


Lirik kalimat terkahir !


"Pelangi-pelangi ciptaan Alloh"


Itulah yang dinyanyikan Mira....


Seharusnya khan "Pelangi-pelangi ciptaan Tuhan"


Kakak saya tea iseng..nggak nyangka kalau akibatnya jadi gitu....khan Tuhan kita Alloh kata kakak saya dengan merasa tidak bersalah.

Thursday, July 21, 2005

Lagu favorite masa kecil

Sejak kecil ku diasuh oleh ayah ibu


Tak pernah dia mengeluh bahkan ku dimanja


Pesan dari Ibu guru kuingat selalu


Do'akanlah  orang tua ..biar masuk surga


 


Oh Tuhan Oh Tuhanku


Dengarlah do'aku


Kasihanilah ayah dan ibu


Dan ampunkanlah dosanya.


"Lagunya Diana Papilaya waktu masih kecil"


 

Punten vs Permisi

Waktu itu THB pertama dalam hidupku. THB untuk pelajaran bahasa Indonesia. Aku masih kelas 1 SD. Salah satu pertanyaannya: "Kalau masuk rumah orang, ucapkan ..................."


Masa kecilku di Tasikmalaya yang kental dengan bahasa Sunda. Jadi tanpa pikir panjang kujawab dengan pede"PUNTEN"


Kakakku yang waktu itu kelas 6 SD jadi pembantu pengawas THB di kelasku. Sepulang ke rumah, dia menegurku ...."kenapa kamu jawab Punten untuk pertanyaan itu?


Dengan enteng kujawab, "Memang itu khan yang kita dan orang-orang katakan kalau ke rumah Orang!"


Kakaku pun baru menyadarinya bahwa sang adik begitu polos. Aku lupa kalau itu pelajaran bahasa Indonesia yang harus dijawab dengan bahasa Indonesia. Aku hanya menjawab dari apa yang kulihat dan kukerjakan saat itu.


Ketika aku mendapatkan hasil THB, akupun tidak mendapat nilai untuk jawaban tersebut karena jawaban yang benar adalah PERMISI.


Permisi bagiku saat itu adalah bahasa dari planet lain yang nggak pernah kudengar jadimana tahu jawabannya itu.

Idealisme seorang teman

http://www.geocities.com/azafoundation/
Adayang mau ikutan jadi donatur?

Sunday, July 17, 2005

Asyiknya main di kali internet

Suami negur," Keu, jangan keasyikan main di kali ya.Masih banyak yang harus kita kerjakan."


Saya bingung! Kali mana? Ada sich kali kecil dan surut di belakang pagar rumah tapi mana pernah main ke sana. Kalau ngintipin dan manjat pagar belakang rumah saya sering, soalnya ada pohon cherry liar...dan saya lagi menunggu buahnya merah agar saya petik, toch tanah itu milih pemerintah dan tak diurus dan tak pernah ada orang pula memperhatikan ataupun menyambanginya.


Saya jadi balik tanya,"Kali? Kali yang mana ya?"


Suami jawab mata kedip-kedip nyindir," Itu kali yang di internet! Multiply itu khan Kali."


Saya cuman termangut-mangut dan berujar,"Ooooooooooooo.Ok boss!!"


 


 

Wraps chip

Description:
Lumayan enak buat nemenin teh manis hangat

Ingredients:
Wraps ( jangan lupa belinya yang no lard!)
Olive oil
Topping:
Garam
Cheese
Garlic powder
Saus apa aja

Directions:
Potong wraps menjadi 8 bagian
Olesi olive oil
Taburi topping yang diinginkan:
- garam, garlic powder dan cheese
- sambal balado sisa masak..
- saus tomat
dll
SIlakan olesi dg topping sesuai selera
panaskan di oven dg suhu 300 F selama 5-10 menit (jangan kelamaan nanti gosong)
Keluarkan dari oven..siap dihidangkan...
Lebih sedap langsung dimakan hangat-hangat ..
Hmmm Yummi!!

Friday, July 15, 2005

Punch !

Description:
It's good for this summer!

Ingredients:
Pineapple Juice
2 lt. Sprite
Koolaid fruit punch mix
Raspberry sherbet

Directions:
Mix all the ingredients ....and enjoy!!

nine one one

Hari itu aku sudah bekerja untuk beberapa hari.


Tiba-tiba supervisorku memanggil," tolong fax surat ini ke Vietnam, penting untuk apply visa student di US Embassy di Ho Chi Minh City."


Tanpa tanya ba bi bu ..dengan gesit ku jawab," Ok..I'll do it now"


Petunjuk pengunaan fax terpasang di kertas putih disamping mesin.


Mulailah kutekan nomor-nomor yang dituju...


Nampaknya tidak mulus fax yang kukirim...ku ulang berkali-kali ...


Tiba-tiba temanku sedikit berteriak," Adakah yang menelepon 911? Ada telepon dari University Police...katanya ada yang telepon ke sana."


Semua bilang dengan tegas," Tidak ada."


Satu temanku tanya," Keukeu, did you send the fax to Vietnam?"


"Yes, but it didn't go through." Jawabku


"A..ha, you did it Keukeu ! Welcome to the club !"


Dengan wajah bingung kutanyakan, maksudnya apa welcome to the club. Dia bilang pasti saya tekan nomornya kurang keras sehingga masuk ke 911. Cara menelpon ke luar negeri di tempat ku ...9 + 011 + country code + no telepon. Kejadian ini hampir teralami pada semua karyawan kalau masih status karyawan baru di tempat kerjaku


"Ooo..." seruku mengerti, Mungkin pada saat tekan 011, kutekan 0 terlalu lembut sehingga tak tertekan sebenarnya.Hmm rasanya sich kuat-kuat menekannya..apalagi dekat fax tidak ada sticker seperti yang terpasang di angkot yang suka kunaiki di Bandung " tekanlah bel dengan mesra".


Semua orang tertawa .....dan mereka bilang pasti polisi datang.


Betul juga, polisi datang. Sekretaris di front desk jelaskan kepada polisi bahwa ada staf yang salah tekan waktu sedang kirim fax. Rupanya polisi tidak begitu saja percaya. Dia bilang bahwa dia harus memeriksa isi kantorku untuk meyakinkan kalau semuanya lancar dan aman. Kitapun  mempersilakan sambil masih terpingkal-pingkal karena kepolosanku. Akhirnya polisi pun kembali ke markasnya.


Ada sedikit trauma setelah kejadian itu kalau mau mengirim fax...tapi dengan kehati-hatian tak pernah terulang lagi. Semoga seterusnya.


 

Lima belas Juli ....

Apa sich ini?

Tidak tahu
 
 0

hmmm
 
 3

15 Juli ..73 tahun lalu ayahanda ..terlahir ke dunia....


15 Juli ....5 tahun lalu sang Khalik memanggil ayahanda dari dunia untuk selamanya...


Semoga kita bertemu di surga  ........


 


15 Juli ... 13 tahun lalu anak laki-laki temanku terlahir berayah...


15 Juli  ... hari ini...dia seorang yatim yang merindukan figur ayah


Semoga mereka bertemu di surga....


 


 


Jadi teringat sebuah lagu ..yang tak pernah kunyanyikan untuk ayahanda...


karena do'a bagi ayahanda lebih penting dari nyanyian.....


AYAH


dimana akan kucari
aku menangis seorang diri
hatiku selalu ingin bertemu
untukmu aku bernyanyi

untuk ayah tercinta
aku ingin bernyanyi
dengan airmata di pipiku
ayah dengarkanlah
aku ingin berjumpa
walau hanya dalam mimpi

lihatlah hari berganti
namun tiada seindah dulu
datanglah aku ingin bertemu
untukmu aku bernyanyi

untuk ayah tercinta
aku ingin bernyanyi
dengan airmata di pipiku
ayah dengarkanlah
aku ingin berjumpa
walau hanya dalam mimpi


 


Ayahanda....


aku tak pernah menangisi kematianmu....


aku tak pernah menyesali kehilanganmu


Aku yakin Allah tahu yang terbaik untuk kita

Wednesday, July 13, 2005

Bandung: The Most Beautiful City in Indonesia

Bandung is one of the big cities in Indonesia. Bandung is also the capital city of West Java Province. It is not far from Jakarta, capital city of Indonesia. If you go from Jakarta, it takes 3 hours of driving or 2 hour by train and 45 minutes by plane. The city is a major industrial center and the cultural capital of the Sundanese people. A local newspaper, Pikiran Rakyat, 19 March 2003 mentioned, “according to Population Registration of 2000, the population of Bandung City was 2,136,260 people and the area is 167,730 square kilometres.”


 Bandung has four local public transportation means: bus (big and medium bus), minibus, taxi, and becak. Becak is a tricycle that has the driver in the back and the passengers in the front.  For intercity transportation, Bandung City has trains that transport passengers and deliver merchandise to all the cities on Java Island, and airplanes go to some of the big cities in Indonesia.


In Bandung, there are six state universities and eleven private universities. Two of the state universities are famous universities in Indonesia: Institut Teknologi Bandung (ITB) and Universitas Padjadjaran. (UNPAD).  An ITB website tells us:


ITB was established in 1920 as Technische Hogeschool (TH), which for a short time, in the middle forties, became Kogyo Daigaku. Not long after the birth of the Republic of Indonesia in 1945, the campus housed the Technical Faculty of Universitas Indonesia, with the head office in Jakarta. In 1959, the present lnstitut Teknologi Bandung was founded by the Indonesian government as an institution of higher learning of science, technology, and fine arts, with a mission of education, research, and service to the community.


Today, ITB is the best engineering, science and fine arts school in Indonesia. Another famous university in Bandung is UNPAD. It was established in 1957 and has medical, science and business schools. Now UNPAD has moved to new and big complex in Jatinangor, Sumedang five miles from Bandung, but the medical and business school are still in Bandung.


The history of Bandung City is unique and has developed in many different situations.  The Institute of Indonesian Architectural History (IIAH) mentions on their website that:


the city history dates from 1488 when the first reference to Bandung exists. However, from ancient archeological finds, we know the city was home to Australopithecus, Java Man. These people lived on the banks of the Cikapundung in north Bandung, and on the shores of the Great Lake of Bandung. Flint artifacts can still be found in the Upper Dago area and the Geological Museum has displays and fragments of skeletal remains and artifacts.


Bandung City history relates to the Dutch colonial period, especially during the Daendels period. IIAH also mentions this:


In 1786, the great post road was built connecting Jakarta, Bogor, Cianjur and Bandung. The Governor General H.W. Daendels was oversaw this project, which went thorough, the Priangan highlands to avoid swampy land. Bupati Wiranatakusumah II, the regent of West Java at the time, chose a site south of the road on the western bank of the Cikapundung, near a pair of holy wells, Sumur Bandung, supposedly protected by the ancient goddess Nyi Kentring Manik. On this site, he built his dalem (palace) and the alun-alun (city square). Following traditional orientations, Mesjid Agung (The Grand Mosque) was placed on the western side, and the public market on the east. His residence and Pendopo (meeting place) was on the south facing the mystical mountain of Tangkuban Perahu. Thus was The Flower City born.


Another historical incident that is very famous in Bandung City is the Bandung Ocean of Fire incident. This is related to the war against Dutch colonialism after the Indonesian government proclaimed its independence on 17 August 1945. IIAH writes about this:


The war years did little to change the city of Bandung, but in 1946, facing the return of the Colonial Dutch to Indonesia, citizens chose to burn down their beloved Bandung in what has become known as Bandung Lautan Api, Bandung Ocean of Fire. Citizens fled to the southern hills and overlooking the "ocean of flames" penned "Halo Halo Bandung," the anthem promising their return.


IIAH mentions Bandung is “the Flower City.” That is another name for Bandung City. During the Dutch colonial, Bandung City was famous for colorful flowers around the city.  Bandung has many parks and all the parks are full of flowers. In addition, because the Dutch people love Bandung for leisure and as a shopping place, they called Bandung Parisj van Java. It means Paris in Java. When they lived in Bandung, they felt Bandung was similar to Paris in Europe. Paris is famous as the most beautiful city in the world.


The Dutch Colonists built many beautiful buildings in Bandung. Those buildings become special buildings. They are historical buildings in Bandung City now. Most of them are in the northern part of Bandung City. One of them is a landmark of Bandung City. That is Gedung Sate (Satay Building). It has this name because of the special decoration on the roof, which somewhat resemblances a stick of sate. The West Java governor uses this building as the governor’s office now. Actually, most of the government office buildings in Bandung City are historical buildings from the Dutch Colonial period. Every spot in Bandung City has a historical building. My senior high school building, SMU 3 Bandung, is one of the historical buildings. In addition, there is a beautiful building whose name is Isola. That was a villa during Dutch colonialism and is the office of the Chancellor of Universitas Pendidikan Indonesia now.


If we are on vacation in Bandung, we can see traditional art performances like angklung performance in Saung Mang Ujo. Angklung is a traditional instrument from West Java and is made from bamboo pipes which produce a melodious tone. I learned how to play angklung when I was high school. I enjoyed it very much when I played the song” Winter Game” from David Foster with my high school team. The angklung team sounds like an orchestra. Another art performance that we can see in Bandung City is wayang golek in Gedung Kesenian Baranang Siang (Baranang Siang Arts Building). Wayang golek is one of the wooden puppet shows. The performers, as we call them dalang, tell the story using wooden puppet. A long time ago, the Sundanese used wayang golek to teach religion and philosophy.


Besides historical buildings and art performances, the geographic condition makes Bandung also become a special place. Bandung is located in the uplands in the middle of West Java, surrounded by old volcanoes. It has cool, comfortable weather and an upland climate. Northern Bandung City is cooler than Southern Bandung City because there are two land levels in Bandung, Southern Bandung City is relatively flat, but Northern Bandung City is mountainous. Both of those situation make Bandung has wonderful scenery.


The beautiful scenery around Bandung City is something tourists need to see. Bandung has an active strato volcano within the Sunda Caldera. Its name is Tangkuban Perahu. Tangkuban Perahu has erupted about seventeen times since 1826. Every night is foggy there. Every weekend many people go to the volcano for hiking. Tangkuban Perahu means capsized boat. The name comes from the legend of Tangkuban Perahu. The legend tells about a son, Sangkuriang, who loved and wanted to marry the mother, Dayang Sumbi. Dayang Sumbi asked Sangkuriang to make a boat in a night and he must finish before sunrise. The son could not finish the job and became angry. He kicked the boat. The boat capsized and became a volcano.


Bandung climate is good for plantation especially tea plantation. That is why we can see tea plantations and rice fields in the southern part of Bandung. It is very amazing scenery. When we pass that area, it looks like huge green carpet. The other interesting places for tourists in Bandung are Ciater's Hot Spring and Maribaya's Waterfall. There are cottages that we can rent so we can stay more than one night to enjoy the situation.


One thing that we cannot forget if we go to Bandung is shopping. Bandung has unique areas that have many stores selling jeans. That street’s name is Cihampelas. We can buy many kinds of jeans, local or imported products. Bandung is also city with a thousand factory outlets. We can find brand name products. Most of the factory outlets sell clothes and bags.


If you love eating out, Bandung is the best place for eating out. Many people from Jakarta come to Bandung just for eating. There are many good restaurants with traditional, national or international food. If you do not have time, you can stop at food store and buy special food to go. We called them oleh-oleh or gifts from Bandung


There is no end to the stories if we talk about Bandung.  The beauty of Bandung City is too short to describe with words. No wonder many tourists love to go to Bandung. If you have never been there, just go and prove my words that Bandung is the most beautiful city in Indonesia.

Sundanese is Not the Punny Language


Indonesia is my country. It contains many ethnic groups, cultures and languages. There are more than 200 ethnic languages in Indonesia and people are still using their mother tongue in daily lives. Every language has different characteristic. Sundanese is one of the ethnic languages in Indonesia that originated in West Java. 


How can we recognize people from West Java or Sundanese?  In Indonesia, it becomes a joke that we can easily notice people from West Java from their accent, especially if they use the Sundanese as their daily language. In the Sundanese language, some consonants are missing and those have an impact on Sundanese native speakers even though they learn Indonesian as the national language at school.


What consonants are missing in Sundanese? There are three consonants missing in the Sundanese vocabulary. Those are “f”, “v”, and “z”. So how they will pronounce f, v and z? F and v, the Sundanese native speakers pronounce the same as p, and z is the same as j. You hear funny as punny; instead of zebra, they will say jebra, or vivid is pipid. I am not making this up. This is a fact!  There was a student whose name is Fajar at Universitas Padjadjaran. Every time people write his name, he always needs to correct it because people write his name based on what Fajar say. Fajar pronounces his name as Pajar. He always tries to correct by saying, “Start with Pi, pictory (he means v, victory), I mean ep, panta (he means f, fanta).”  People think there are no differences from what Fajar says. All p’s, v’s, and f’s are pronounced the same as p. This condition also happens if the Sundanese native speakers speak another language.  They still mispronounce f and v with p. Sometimes if they think about those consonants during their speech, they confuse themselves about whether they have to use p, f or v.


Another thing that we can find in Sundanese is that they sometimes add a Sundanese word even though they are speaking in another language. Like a word mah. It has no meaning; it just puts the accent on what people say. For example, when a Sundanese mentions my name in English, a Sundanese will say,”Her name mah is Keukeu.” 


For some people this is funny. For other people, it is sometimes confusing for what the Sundanese is trying to say in the English language at first. The Sundanese sound like they speak English with a strange vocabulary. When people realize that the Sundanese cannot pronounce f, v and z, everything becomes clear.


Sundanese speakers know and realize this, but it is hard to change their tongue instantly. I know it is frustrating for the person who has that problem. Actually, this problem is not only true for Sundanese, but it also happens in other languages. Sometimes people cannot speak other languages correctly. We have to tolerate and understand this problem. We can help to correct them when they make mistakes if they want to, so we do not offend them. We can give them confidence that they will be able to pronounce perfectly as long as they try hard.


The Sundanese language has a characteristic that has an impact the speaker. So, if you are in Indonesia and want to go to West Java, but you are not sure that you are already in West Java or not, listen to how they ask you questions. When you hear people say,” Where are you prom?” don’t be surprised; you’re in the right place or you’re around people that you can ask where West Java is.

Tasikmalaya is My Sweet Childhood Memory

I was born in Tasikmalaya, Indonesia.  Tasikmalaya is one of the smaller cities in Indonesia.  It is located in the southwest of Java Island, West Java Province.  In Indonesia, people from Tasikmalaya are traders, especially traders that use the credit system.  Tasikmalaya is well known as a trading place; people can go to Tasikmalaya to make a business deal.  There are many home industries in Tasikmalaya.  Products that people know from Tasikmalaya are special batik style fabric (batik tasik), lace clothes, and many types of handicrafts, wooden sandals, traditional food, tapioca flour, and special crackers.  The famous place to buy handicrafts in Tasikmalaya is Rajapolah. They also export their products to other countries.  Tasikmalaya is also known as the place that produces the greatest number of dangdut singers in Indonesia.  Dangdut is a type of Indonesian music.


Tasikmalaya has a volcano named Gunung Galunggung that erupted terrifyingly in April, 1981.  At that time, the dust from Gunung Galunggung went as far as the beaches in Australia.  I remember my experience relating to Gunung Galunggung’s eruption.  I was in the 4th grade at that time. I could not go to school for one month, because we had dust rain almost every day, so I studied at home.   My home was 15 miles from Gunung Galunggung; it is far, and that is why we just got dust rain when Gunung Galunggung erupted.  We did not get hit with other things like lava.


Tasikmalaya also has a beach that faces the Indian Ocean; it is named Cipatujah.  That beach has white sand and is still natural.  Besides that, we can see rice fields in the village. There are also two lakes in Tasikmalaya, Gede Lake and Panjalu Lake.  We can swim at those lakes. There is also an interesting area called Kampong Naga. The people of Kampong still adhere to the old traditions. The way they build their houses is unique. The uniqueness lies in their uniformity, starting with the building materials; the house is designed in accord with the direction their houses are facing.


The weather in Tasikmalaya is almost the same as other places in Indonesia; we are in a tropical area so we have only two seasons, the dry season and the wet or rainy season. The hottest temperature in Tasikmalaya is never more than 90 degrees Fahrenheit.


Tasikmalaya is a small city that looks like Fayetteville, Arkansas, but the population is more than Fayetteville, almost 1.6 million people.  Most of the people in Tasikmalaya are Muslims.  Most of them are religious, so there are many Islamic boarding schools (pesantren) in Tasikmalaya.  In Tasikmalaya, not all the people have a car or a motorcycle because they have different economic conditions.  There are many forms of public transportations; it makes it easy to go anywhere.  We also have unique public transportation, it is named becak.  Becak is a tricycle that has the driver in the back and the passengers in the front.


People in Tasikmalaya are so friendly, they always greet and smile at each other in the street. They are very welcoming to everybody. They are also very helpful.  If we get lost in Tasikmalaya, we do not need to worry.  All people in Tasikmalaya will help us until we can find the place we are searching for.  They will give us directions if we ask, and it is possible they will give us a ride to the place we seek. Some people also let people stay free if they do not find the place that they seek.   Neighborhoods in Tasikmalaya are also very close.  All the neighbors know each other.  Their kids also play together inside and outside the houses without worrying that someone will kidnap them.  All the students in elementary and junior high school are also members of Boy Scouts or Girl Scouts. They have camps and survival competition every year, and there are many competitions for students. It allows the children to have fun.


Every year the Tasikmalaya Fair celebrates Tasikmalaya‘s birthday.  They use the downtown and surroundings as a place for the Tasikmalaya Fair.  We can see many local handicrafts there and we can enjoy entertainment from local singer and comedian.  When I lived there, I always went to the fair because I like to buy cotton candy that we can find only at that fair.


I am lucky to have had the experience of living in Tasikmalaya because it made me rich with experiences.  I have gone to the Gunung Galunggung, Gede Lake, Cipatujah Beach, the rice fields, and the river.  I have sweet memories of Tasikmalaya.  I was the best student in Tasikmalaya when I was 5th grade, and I was the winner of the math competition in 6th grade. I remember all of my elementary teachers in Tasikmalaya who always guided me to be the best student and a good person.  They said knowledge is power, but character is more. I will not forget them.  Besides what I learned in school, I learned many things from Tasikmalaya, like how to be friendly to other people and to be religious.   I lived in Tasikmalaya for 13 years, then I moved to Bandung, the capital city of West Java Province because of my father’s job.


I hope I will go to Tasikmalaya again if I go to Indonesia, and I recommend to foreign people to go there if they travel to Indonesia. Not many foreign people know that place, but it will be unforgettable and worth the trip.

my employer

http://www.uark.edu

Salad Soun Udang


Ingredients:
- Mung bean noodles ( soun)
- Shrimp salad
- Red chilli diiris tipis
- Cilantro diiris
- Cucumber dipotong kecil2 seperti dadu
- Olive oil
- Salt
- Black pepper
- Vinegar


Directions:
Seduh soun dengan air mendidih
Campurkan semua bahan di atas.
Selamat mencoba!

White Ied Fitr di Fayetteville

Saya pilih judul di atas, berdasarkan pemandangan saat Idul Fitri di Fayetteville, Arkansas yang putih di mana-mana karena tertutup salju yang turun pada saat malam takbiran, salju ini salju pertama di musim tahun ini.  Bagi kita umat Islam turun salju malam atau hari lebaran adalah biasa saja tetapi bagi orang Kristen di sini cukup dinantikan, entah kenapa mereka sangat mendambakan yang namanya White Christmas, mungkin sesuai dengan gambaran di film-film atau di lukisan kalau natal identik dg salju. Buat saya sendiri hmmmm …. ini sebetulnya pengalaman Idul Fitri kedua disini, dan White Ied ini yang pertama, White Ied ini justru bikin khawatir karena jalanan akan licin tertutup salju yang mencair dan membeku, dan ini berbahaya bagi yang mengendarai kendaraan, memang malam itu diberitakan di TV terjadi beberapa kecelakaan di jalan raya.


 


Informasi bahwa hari Kamis adalah hari Idul Fitri di Fayetteville saya terima berdasarkan info dari Masjid Hamza, masjid satu-satunya di Fayetteville bahkan di Northwest Arkansas ini, sampai Rabu pagi saya masih belum tahu kapan Idul Fitri di Fayetteville, bahkan saya sampai telepon ke Indonesia dan keluarga saya di Indonesia tengah menjalani malam takbiran karena di Indonesia waktu itu Rabu malam artinya mereka berlebaran hari Kamis sesuai dengan penjelasan dari Muhammadiyah.


 


 Di Fayetteville malam Kamis berarti malam Idul fitri, artinya saya tidak pergi lagi ke masjid untuk shalat tarawih, hanya suami yang pergi untuk shalat isha, saya kemudian pergi memenuhi undangan tetangga dan ternyata malam itu sister-sister berkumpul bersama putri-putrinya di sana, mereka melakukan kegiatan melukis tangan dengan henna, di Indonesia pun dikenal dengan nama Mehndi.  Kegiatan ini dilakukan sebagai kegiatan yang spesial karena esok idul fitri. Malam Idul Fitri kali ini saya tidak sesibuk tahun lalu, karena jatuh pada hari kerja/sekolah maka saya tidak melakukan open house pada hari Idul Fitrinya, tetapi saya lakukan hari Sabtu sebab tidak semua ambil cuti pada hari  H itu, ya karena ada quiz di kampus ada yang ambil cutinya Jum’at karena dikira Idul Fitri hari Jum’at.


 


Malam Idul Fitri di Fayetteville, tidak jauh beda dengan malam-malam biasa karena di sini Muslim adalah minoritas dan di Masjid pun tidak dilakukan takbiran seperti halnya di Indonesia.  Sebagai orang Indonesia, saya sangat kehilangan suasana takbiran atau suasana malam lebaran khas Indonesia.  Malam itu akhirnya saya dan suami menelpon keluarga saya di Bandung  yang merayakan Idul Fitri hari Kamis waktu Indonesia.  Keluarga mertua karena mereka berlebaran hari Jum’at, kami telepon hanya untuk memberitakan bahwa kami di sini berlebaran hari Kamis.  Menjelang tidur, saya dan suami teringat bahwa di luar salju  sementara apartemen kita di lantai 2, jadi ada kemungkinan besok pagi tangga dan jalanan menuju mobil licin sekali, untuk itu sebelum tidur kita ke luar rumah lagi bersihkan salju  dan menaburi garam  pada tempat jalan kita menuju mobil sehingga besok pagi kita bisa pergi dengan lancar.


 


Esoknya, pagi-pagi saya dan suami seperti biasa bangun, sarapan dulu dan bersiap menuju tempat shalat Ied.  Karena udara dingin, di Fayetteville ini tempat shalat Ied dilaksanakan di ruangan besar di suatu Hotel yang di sewa oleh pengurus masjid.  Perjalanan dari rumah ke Ramada Inn  (hotel) tidak selancar yang kita duga, karena di pertengahan jalan terjadi antrian cukup panjang, ada beberapa mobil yang tidak bisa melaju karena jalanan icy.  Saya sempat khawatir juag kalau-kalau kita terlambat, tetapi alhamdulillah begitu di sana belum banyak orang malah kita ikut membereskan tempat buat shalat, banyak rekan-rekan pun mengalami nasib sama, ya terjebak kemacetan. Ya memang kalau turun salju, mobil-mobil dikendarai harus dengan lebih pelan dan lebih hati-hati karena jalan sangat licin.


 


Tempat shalat Ied seperti halnya di Indonesia  terpisah antara laki-laki dan perempuan, tetapi di sini biasanya ditutup sekat sehingga kita tidak bisa melihat sama sekali bagian laki-laki begitu pula sebaliknya,  namun kali ini tidak tertutup sama sekali masih ada sekat bagian belakang yang terbuka, memberi kesempatan bagi para wanita untuk dapat mendengarkan khutbah dan imam takbir, tahun lalu para wanita sempat tertinggal ketika memulai shalat karena para wanita tidak bisa mendengar imam takbir  tertutup oleh ributnya suara anak-anak.


 


Sambil menunggu shalat dimulai, saya beserta muslimah lain duduk sambil bertakbir dan menyambut rekan ‘sister’ (sebutan untuk muslimah) yang baru datang, biasanya mereka datang langsung bersalaman, cium pipi gaya arab (satu kanan, satu kiri, dan berkali-kali di kanan lagi) sambil mengucapkan Ied Mubarak!  Saking seringnya dilakukan sampai sesama Indonesia pun saya melakukan cium pipi begini, dan saya pun tersadar sesudahnya akhirnya saya jadi tersenyum geli.


 


Selesai shalat, khutbah dibacakan dalam dua bahasa yakni bahasa Arab dan bahasa Inggris, yang menjadi khatib adalah brother dari Saudi Arabia yang sedang menjalani pendidikan S-3 di University of Arkansas.


 


Usai shalat beberapa ibu-ibu menyiapkan hadiah buat anak-anak, berupa kantung-kantung yang berisikan permen, coklat ada juga yang membagikan pop corn.  Anak-anak tampak senang berburu hadiah tersebut, Idul Fitri benar-benar suatu ajang kebahagian bagi mereka.  Hal seperti ini memang sengaja dilakukan para orang tua, agar anak-anak merasa bahagia di hari raya Islam, seperti halnya anak-anak Amerika bahagia di Natal karena mendapatkan hadiah.  Untuk orang dewasa juga tersedia snack yang dibawa oleh sister-sister.


 


Pertemuan di shalat Idul Fitri sangat saya nantikan, karena kita bisa ketemu dengan sister-sister dari negara lain yang sehari-hari tidak pernah bertemu.  Sister-sister ini terdiri dari macam-macam negara kebanyakan dari Timur Tengah, ada yang memang melanjutkan studi ada juga yang mendampingi suami studi atau bekerja seperti saya.  Kali ini saya ketemu dengan 2 orang Indonesia yang bekerja di rumah orang Saudi, yang satu akrab ngobrol sama orang-orang Indonesia, yang satu lagi masih tampak segan gabung sama kita.  Saya pikir saya perlu pendekatan terhadap majikannya dulu agar mereka boleh berbaur sama kita. 


 


Selepas pulang dari shalat Ied, saya dan suami memenuhi undangan teman-teman, dan bersilaturrahmi ke orang Indonesia yang disepuhkan. Saya juga sempat berkunjung ke teman dari Pakistan dan ke acaranya Ied Party orang-orang Saudi.  Ya memang berbeda suasa lebaran Indonesia dengan yang lain, tidak ada salam tempel buat anak-anak, tidak ada salam-salaman sambil bermaaf-maafan, tidak ada kue lebaran.  Hari Jum’at kita pun memenuhi undangan rekan lain. Suami saya ambil cuti 2 hari jadi alhamdulillah kita bisa memenuhi semua undangan teman-teman.


 


Hari Sabtu baru giliran kita mengundang seluruh warga Indonesia di Fayetteville ini, untuk menikmati hidangan ala kadarnya. Kita masak usahakan seperti lebaran di Indonesia yakni  ada opor ayam, dan ketupat ala keukeu alias nasi impit (nasi matang  dari rice cooker pindahkanke pinggan datar, tekan-tekan hingga padat masukan kulkas, kemudian setelah beberapa saat dipotong-potong menyerupai ketupat dan dihangatkan dengan microwave).  Alhamdulillah teman-teman bisa datang, walau tempat tinggal kita kecil bisa nampung juga, bahkan kita sempat mengundang tetangga dari Palestina, India dan Mesir, mau tahu komentar mereka kalau orang Indonesia ngobrol? Katanya kayak mesin jahit drrrt…drrrt…drrrt… ngomongnya cepat sekali.  Yang membuat saya senang juga ternyata  Ibu Hindun yang bekerja di Keluarga Saudi diperbolehkan datang ke tempat saya bahkan diantarkan oleh majikannya, tetapi mereka nggak ikut gabung karena punya acara.

Mempertahankan keimanan di tempat asing

Pergi ke luar negeri untuk bermukim dialami banyak orang dengan berbagai alasan, ada yang melanjutkan sekolah, mendapat pekerjaan, menikah dengan orang asing dll.  Saya pun mengalaminya, suami yang saya nikahi mendapat pekerjaan di tempat dia menyelesaikan kuliah yakni di USA. Tak pernah saya mimpikan saya ke luar negeri untuk bermukim.  Mimpi saya selagi kecil kalau ke luar negeri adalah sekolah, atau jalan-jalan.


 


Yang pertama saya khawatirkan ketika pergi adalah …bagaimanakah keimananku … ????  Saya sadar selama ini saya dalam proses belajar terus, bagaimanakah saya di tempat baru nanti??? Selama ini alhamdulillah saya hidup dalam lingkungan yang cukup kondusif dengan suasana Islam, di keluarga, di kantor ataupun di masjid tempat beraktifitas. Kegiatan masjid atau lingkungan masjid itu yang selalu saya perlukan, selain rutinitas di rumah dan di kantor.


 


Tiba di tempat baru ….saya pertama mencari masjid, kebetulan masjid itu adalah masjid satu-satunya di kota kecil Fayetteville, Arkansas, tempat suami bershalat Jum’at juga.  Beberapa bulan pertama  saya tidak tahu kegiatan muslimahnya, karena untuk ke sana pun saya masih kesulitan dalam hal transportasi, alhamdulillah kami pun pindah lokasi tempat tinggal sehingga saya bisa mengatasi kesulitan transportasi tersebut,  saya tidak perlu menunggu suami pulang kantor lagi untuk mengantarkan saya tetapi saya bisa pergi ke Masjid dengan bis University yang melewati masjid tersebut. 


 


Kegiatan yang diikuti awalnya halaqah di Masjid setiap hari Jum’at sore, kemudian terkadang hari Ahad, dan sekarang halaqahnya pun hari Ahad berbarengan dengan kegiatan Sunday School buat anak-anak, terkadang kita buat acara potluck lunch, atau potluck dinner.   Alhamdulillah kegatan ini bisa tetap saya ikuti, bahkan saya bisa mengenal muslimah dari berbagai negara.


 


Sebetulnya sebelum saya menemukan kegiatan masjid, saya mencari kegiatan kerohanian di internet,  ……. syukur alhamdulillah seorang muslimah yang kebetulan juga teman kantor kakak membantu menghubungkan saya dengan komunitas muslimah Indonesia di USA.  Pertama saya hanya mengikuti kegiatan seputar email di IMSA Sister Mailing list, kemudian berkembang  dengan mengikuti halaqah melalui teleconference kita menyebutnya telehalaqah,  bahkan bisa bertemu muka melalui kegiatan Muktamar.  Beberapa lalu bahkan ada kegiatan lain yakni taujih melalui chat room dengan narasumber ustadzah dari Indonesia.  Alhamdulillah dari kegiatan ini saya banyak sekali mendapat manfaat bahkan menambah teman yang serasa keluarga.


 

Kemudian selain IMSA Sister Mailing List, saya pun bergabung dengan Milis Muslimah ataupun milis lain yang memang saya perlukan

"Children Learn What They Live"

by Dorothy Law Nolte (1954)


 


If children live with criticism


they learn to condemn.


 


If children live with hostility,


they  learn to fight.


 


If children live with fear,


they  learn to be apprehensive.


 


If children live with pity,


they learn to feel sorry for themselves.


 


If children live with ridicule,


they learn to feel shy.


 


If children live with jealousy,


 they  learn to feel envy.


 


If children live with encouragement,


they learn confidence.


 


If children live with tolerance,


they learn patience.


 


If children live with acceptance,


they learn to like themselves.


 


If children live with recognition,


they learn it is good to have a  goal.


 


If children live with sharing,


 they learn generosity.


 


If children live with honesty,


 they  learn truthfulness.


 


If children live with fairness,


 they learn justice.


 


If children live with kindness and consideration,


 they learn respect.


 


If children live with security,


they learn to have faith in themselves and in those about them.


 


If children live with friendliness,


they learn the world is a nice place in which to live.