Wednesday, July 13, 2005

White Ied Fitr di Fayetteville

Saya pilih judul di atas, berdasarkan pemandangan saat Idul Fitri di Fayetteville, Arkansas yang putih di mana-mana karena tertutup salju yang turun pada saat malam takbiran, salju ini salju pertama di musim tahun ini.  Bagi kita umat Islam turun salju malam atau hari lebaran adalah biasa saja tetapi bagi orang Kristen di sini cukup dinantikan, entah kenapa mereka sangat mendambakan yang namanya White Christmas, mungkin sesuai dengan gambaran di film-film atau di lukisan kalau natal identik dg salju. Buat saya sendiri hmmmm …. ini sebetulnya pengalaman Idul Fitri kedua disini, dan White Ied ini yang pertama, White Ied ini justru bikin khawatir karena jalanan akan licin tertutup salju yang mencair dan membeku, dan ini berbahaya bagi yang mengendarai kendaraan, memang malam itu diberitakan di TV terjadi beberapa kecelakaan di jalan raya.


 


Informasi bahwa hari Kamis adalah hari Idul Fitri di Fayetteville saya terima berdasarkan info dari Masjid Hamza, masjid satu-satunya di Fayetteville bahkan di Northwest Arkansas ini, sampai Rabu pagi saya masih belum tahu kapan Idul Fitri di Fayetteville, bahkan saya sampai telepon ke Indonesia dan keluarga saya di Indonesia tengah menjalani malam takbiran karena di Indonesia waktu itu Rabu malam artinya mereka berlebaran hari Kamis sesuai dengan penjelasan dari Muhammadiyah.


 


 Di Fayetteville malam Kamis berarti malam Idul fitri, artinya saya tidak pergi lagi ke masjid untuk shalat tarawih, hanya suami yang pergi untuk shalat isha, saya kemudian pergi memenuhi undangan tetangga dan ternyata malam itu sister-sister berkumpul bersama putri-putrinya di sana, mereka melakukan kegiatan melukis tangan dengan henna, di Indonesia pun dikenal dengan nama Mehndi.  Kegiatan ini dilakukan sebagai kegiatan yang spesial karena esok idul fitri. Malam Idul Fitri kali ini saya tidak sesibuk tahun lalu, karena jatuh pada hari kerja/sekolah maka saya tidak melakukan open house pada hari Idul Fitrinya, tetapi saya lakukan hari Sabtu sebab tidak semua ambil cuti pada hari  H itu, ya karena ada quiz di kampus ada yang ambil cutinya Jum’at karena dikira Idul Fitri hari Jum’at.


 


Malam Idul Fitri di Fayetteville, tidak jauh beda dengan malam-malam biasa karena di sini Muslim adalah minoritas dan di Masjid pun tidak dilakukan takbiran seperti halnya di Indonesia.  Sebagai orang Indonesia, saya sangat kehilangan suasana takbiran atau suasana malam lebaran khas Indonesia.  Malam itu akhirnya saya dan suami menelpon keluarga saya di Bandung  yang merayakan Idul Fitri hari Kamis waktu Indonesia.  Keluarga mertua karena mereka berlebaran hari Jum’at, kami telepon hanya untuk memberitakan bahwa kami di sini berlebaran hari Kamis.  Menjelang tidur, saya dan suami teringat bahwa di luar salju  sementara apartemen kita di lantai 2, jadi ada kemungkinan besok pagi tangga dan jalanan menuju mobil licin sekali, untuk itu sebelum tidur kita ke luar rumah lagi bersihkan salju  dan menaburi garam  pada tempat jalan kita menuju mobil sehingga besok pagi kita bisa pergi dengan lancar.


 


Esoknya, pagi-pagi saya dan suami seperti biasa bangun, sarapan dulu dan bersiap menuju tempat shalat Ied.  Karena udara dingin, di Fayetteville ini tempat shalat Ied dilaksanakan di ruangan besar di suatu Hotel yang di sewa oleh pengurus masjid.  Perjalanan dari rumah ke Ramada Inn  (hotel) tidak selancar yang kita duga, karena di pertengahan jalan terjadi antrian cukup panjang, ada beberapa mobil yang tidak bisa melaju karena jalanan icy.  Saya sempat khawatir juag kalau-kalau kita terlambat, tetapi alhamdulillah begitu di sana belum banyak orang malah kita ikut membereskan tempat buat shalat, banyak rekan-rekan pun mengalami nasib sama, ya terjebak kemacetan. Ya memang kalau turun salju, mobil-mobil dikendarai harus dengan lebih pelan dan lebih hati-hati karena jalan sangat licin.


 


Tempat shalat Ied seperti halnya di Indonesia  terpisah antara laki-laki dan perempuan, tetapi di sini biasanya ditutup sekat sehingga kita tidak bisa melihat sama sekali bagian laki-laki begitu pula sebaliknya,  namun kali ini tidak tertutup sama sekali masih ada sekat bagian belakang yang terbuka, memberi kesempatan bagi para wanita untuk dapat mendengarkan khutbah dan imam takbir, tahun lalu para wanita sempat tertinggal ketika memulai shalat karena para wanita tidak bisa mendengar imam takbir  tertutup oleh ributnya suara anak-anak.


 


Sambil menunggu shalat dimulai, saya beserta muslimah lain duduk sambil bertakbir dan menyambut rekan ‘sister’ (sebutan untuk muslimah) yang baru datang, biasanya mereka datang langsung bersalaman, cium pipi gaya arab (satu kanan, satu kiri, dan berkali-kali di kanan lagi) sambil mengucapkan Ied Mubarak!  Saking seringnya dilakukan sampai sesama Indonesia pun saya melakukan cium pipi begini, dan saya pun tersadar sesudahnya akhirnya saya jadi tersenyum geli.


 


Selesai shalat, khutbah dibacakan dalam dua bahasa yakni bahasa Arab dan bahasa Inggris, yang menjadi khatib adalah brother dari Saudi Arabia yang sedang menjalani pendidikan S-3 di University of Arkansas.


 


Usai shalat beberapa ibu-ibu menyiapkan hadiah buat anak-anak, berupa kantung-kantung yang berisikan permen, coklat ada juga yang membagikan pop corn.  Anak-anak tampak senang berburu hadiah tersebut, Idul Fitri benar-benar suatu ajang kebahagian bagi mereka.  Hal seperti ini memang sengaja dilakukan para orang tua, agar anak-anak merasa bahagia di hari raya Islam, seperti halnya anak-anak Amerika bahagia di Natal karena mendapatkan hadiah.  Untuk orang dewasa juga tersedia snack yang dibawa oleh sister-sister.


 


Pertemuan di shalat Idul Fitri sangat saya nantikan, karena kita bisa ketemu dengan sister-sister dari negara lain yang sehari-hari tidak pernah bertemu.  Sister-sister ini terdiri dari macam-macam negara kebanyakan dari Timur Tengah, ada yang memang melanjutkan studi ada juga yang mendampingi suami studi atau bekerja seperti saya.  Kali ini saya ketemu dengan 2 orang Indonesia yang bekerja di rumah orang Saudi, yang satu akrab ngobrol sama orang-orang Indonesia, yang satu lagi masih tampak segan gabung sama kita.  Saya pikir saya perlu pendekatan terhadap majikannya dulu agar mereka boleh berbaur sama kita. 


 


Selepas pulang dari shalat Ied, saya dan suami memenuhi undangan teman-teman, dan bersilaturrahmi ke orang Indonesia yang disepuhkan. Saya juga sempat berkunjung ke teman dari Pakistan dan ke acaranya Ied Party orang-orang Saudi.  Ya memang berbeda suasa lebaran Indonesia dengan yang lain, tidak ada salam tempel buat anak-anak, tidak ada salam-salaman sambil bermaaf-maafan, tidak ada kue lebaran.  Hari Jum’at kita pun memenuhi undangan rekan lain. Suami saya ambil cuti 2 hari jadi alhamdulillah kita bisa memenuhi semua undangan teman-teman.


 


Hari Sabtu baru giliran kita mengundang seluruh warga Indonesia di Fayetteville ini, untuk menikmati hidangan ala kadarnya. Kita masak usahakan seperti lebaran di Indonesia yakni  ada opor ayam, dan ketupat ala keukeu alias nasi impit (nasi matang  dari rice cooker pindahkanke pinggan datar, tekan-tekan hingga padat masukan kulkas, kemudian setelah beberapa saat dipotong-potong menyerupai ketupat dan dihangatkan dengan microwave).  Alhamdulillah teman-teman bisa datang, walau tempat tinggal kita kecil bisa nampung juga, bahkan kita sempat mengundang tetangga dari Palestina, India dan Mesir, mau tahu komentar mereka kalau orang Indonesia ngobrol? Katanya kayak mesin jahit drrrt…drrrt…drrrt… ngomongnya cepat sekali.  Yang membuat saya senang juga ternyata  Ibu Hindun yang bekerja di Keluarga Saudi diperbolehkan datang ke tempat saya bahkan diantarkan oleh majikannya, tetapi mereka nggak ikut gabung karena punya acara.

No comments:

Post a Comment