Siapa yang tidak merasa disambar petir kalau belahan jiwa divonis kanker stadium 3. Kanker usus besar pula! Vonis yang cukup mengagetkan bagi Mbak Rumi. Tak disangka kalau penyakit yang dikira wasir pada suaminya lebih buruk dari yang dikira. Saran dokter operasi pengangkatan dan pemotongan usus pun dipertimbangkan. Keinginan kuat suami untuk operasi mudah-mudahan usaha penyembuhan yang tepat harap Mbak Rumi. Operasi berjalan lancar, usus yang dipotong dapat tersambung. Alhamdulillah....sang suami kembali normal....sampai setahun kemudian...dia kesulitam buang air dari hari ke hari dan vonis berikutnya kankernya tumbuh lagi dan harus dioperasi lagi. Sang suami sedikit gundah...sampai akhirnya meninggal sebelum operasi kedua berjalan.
Allah memang Maha Berkehendak....pernikahan mereka di usia muda yang telah dijalani 12 tahun dan membuahkan 4 orang anak, 3 putri dan 1 putra harus ditinggal satu anggotanya, sang suami. Si sulung Nabila 11 tahun, kedua Hana 9 tahun ketiga Safa 7 tahun keempat Umar 4 tahun.Nabila yang paling sedih berat kerna cukup lama mengenal ayahnya dan yangpaling dekat dengan ayahnya. Hana sedih tapi dia nampaknya ingin mencoba tegar demi Mbak Rumi.Safa apalagi Umar..masih terlihat biasa saja.
4 bulan kematian suami Mbak Rumi berlalu. Mbak Rumi berusaha mandiri menghidupi keluarga. Berat terasa...karena sebelumnya sang suamilah sumber nafkah, Mbak Rumi ibu rumah tangga tetapi aktif mengisi pengajian. Bisnis busana muslim dicoba dijalani. Kedua orang tua Mbak Rumi pun tinggal bersamanya membantu keluarga dan bisnisnya, entah sampai kapan. Kakak adik mbak Rumi dan keluarga senantiasa mengunjungi seperti sediakala sebelum menjanda.
Mbak Rumi tampak kurus dan letih di wajahnya. Tak terasa air mata meleleh saat berdo'a sehabis shalat Maghrib. Si kecil tiba-tiba duduk di dipangkuan dan berujar," Ibu....sekarang ayah ade, Pak Usman ya."
Air mata Mbak Rumi makin deras. Umar menatap ibunya tak mengerti.
Tiba-tiba Ibu Mbak Rumi pun masuk dan menyapa, " Kamu nggak apa-apa khan Mi?"
"Jangan dimasukin hati kata-kata Umar, namanya anak kecil." Tambah Ibu Mbak Rumi.
"Tapi Bu, menyentuh sekali. Dia memang tidak lama mengenal ayahnya. Pak Usman, supir Ibu-lah yang akhirnya menemani sepulang sekolah kalau aku tak ada." Sela mbak Rumi
"Mungkin kamu memang harus mencoba memikirkannya untuk pendamping baru." Ibu mencoba menasihati.
"Sulit Bu...Mana ada yang mau sama janda beranak 4." Kata Mbak Rumi lirih.
"Allah Maha Pengasih dan Penyayang dan Maha Memiliki Segalanya. Mintalah sama-Nya. Kamu khan tahu itu." seru Ibu.
Tiba-tiba Nabila masuk kamar dengan berkacak pinggang,"Kakak dengar pembicaraan Ibu dan Nenek. Kalau Ibu mau cari ayah baru....langkahi dulu mayat Kakak! Kakak tak perlu ayah baru!" Lantang Nabila.
Ibu mbak Rumi merangkul Nabila seraya berujar,"Kakak.....Ibumu tidak mencari ayah baru."
Nabila masih marah,"Tadi Kakak dengar koq." Nabila pun lari ke kamarnya dan menangis.
Mbak Rumi cemas...tak menyangka Nabila sesensitif itu. Mbak Rumi mencoba berbicara dengan Nabila.
"Kakak....." Mbak Rumi mencoba memanggil Nabila.
"Ibu tahu kakak sedih ditinggal ayah. Ibu juga sedih. Tapi kita khan tidak boleh bersedih terus. Ayah tak suka khan kalau kita bersedih terus? Mari jangan bahas lagi tentang itu ya? Lebih baik kita banyak berdo'a buat Ayah. Do'a anak shalihah akan dikabulkan Allah."Mbak Rumi mencoba menenangkan Nabila.
Keesokan hari adik mbak Rumi, Nu'man datang menjenguk dengan anak-anaknya.
"Mbak, ada pesan belasungkawa dari Ahmad, teman kuliahku yang dekat dengan Mas Arif. Aku bertemu tak sengaja pas Jum'atan di Al-Azhar. Rupanya dia tidak tahu Mas Arif meninggal karena dia baru saja pindah dari Kalimantan. Dia menjadi dosen di Jakarta sekarang." Adikku menyampaikan informasi.
"Ahmad? Aku nggak gitu dekat Man atau mungkin aku lupa ya?."Mbak Rumi menimpali.
********
"Assalamu'alaikum..." Nu'man mampir ke rumah Mbak Rumi sepulang ngantor.
"Mau minum apa Man?Tumben pulang kerja langsung mampir sendiri?" Tanya mbak Rumi.
"Iya mbak...tadi udah bilang anak-anak dan Safiyya koq. Ada amanah yang harus aku sampaikan.Penting!" Nu'man menjawab sambil minum air putih yang dihidangkan Mbak Rumi.
"Tadi siang aku makan siang dengan Ahmad sambil ngobrol-ngobrol. Rupanya dia masih single.Dia mengutarakan niat ingin melamar Mbak." Nu'man menambahkan.
Mbak Rumi tak menggubris kalimat terakhir Nu'man.
"Mbak....marah ya?."Tanya Nu'man.
"Ahmad serius mengutarakan niatnya.Aku kembalikan pada Mbak.Kalau mau minta pendapatku aku mendukung. Insha Allah dia orang yang shaleh seperti Mas Arif."
Mbak Rumi ..terdiam....
"Nabila tak ingin aku menikah lagi. Dia sedih ketika neneknya menasehatiku untuk menikah lagi."Jawab mbak Rumi.
"Kalau itu masalahnya, biar aku dan Safiyya bantu.Tinggal Mbak shalat istikharah dan fikirkan.Tak usah dijawab secepatnya. Ahmad bukan orang asing bagi kita, makanya aku mendukung. Dia bilang siap menafkahi dan bertanggung jawab atas mbak dan anak-anak."
Mbak Rumi...terdiam lagi.
"Ya sudah mbak..aku pamit dulu. Sampaikan salam buat Mama Papa kalau kembali dari undangan." Nu'man pun berpamitan.
Mbak Rumi mulai pusing.....
Hatinya bertanya-tanya apakah harus menikah lagi? Apakah aku siap? Apakah ..apakah dan apakah....seribu pertanyaan memenuhi kepalanya.
bersambung.................................