Friday, September 2, 2005

Nasib...nasib jadi orang Indonesia......(kisah ramadhan lalu)


Di tempat tinggal saya sekarang , komunitas muslim berasal dari berbagai negara dan cukup berbaur. Mayoritas dari Timur Tengah yag dikirim oleh pemerintahnya untuk melanjutkan sekolah. Diantara keluarga dari Timur Tengah  itu ada beberapa yang membawa pembantu yang kebetulan berasal dari Indonesia. Sebagai sesama orang Indonesia, saya dan teman-teman yang lain terkadang menengok atau mengajak saudara kita yang bekerja di keluarga Timur Tengah itu untuk berkumpul. Siapa tahu kangen sama masakan Indonesia. Bahkan pernah juga majikannya ikut diundang.


 


 


Dalam setiap Ramadhan, orang-orang sering lebih  bersemangat melakukan amalan. Begitupundi lingkungan saya. Suatu malam di sepuluh hari terakhir, seorang sister Saudi mendekati saya, Keukeu ini zakat mal saya buat kamu. Saya tidak kaget mendengar itu karena sebelum shalat tarawih, beberapa sister (sebutan untuk sesama muslimah di US) Indonesia ada yang diberi uang oleh orang Saudi dan dibilangnya hadiah lebaran.Saya hanya tidak menyangka saja akan terjadi lagi di hari berikutnya.


 


 


Saya bilang sama sister Saudi, maaf bukannya saya tersinggung tapi saya bukan mustahiq, saya tak punya hak. Kata-kata itu meluncur saja lancar dari mulut tanpa berpikir apa iya saya bukan mustahiq?????   Yang terpikir  hanya alhamdulillah masih bias makan, minum, punya tempat berteduh dan sarana untuk bepergian…saya tak mau rakus Ya Allah. Saya mensyukuri semua nikmatMu ya Allah, sementara di tempat lain masih banyak yang susah untuk mendapat sesuap nasi. Saya katakana pula hal itu terhadap putrinya yang bahasa Inggrisnya lebih fasih dari ibunya. Alhamdulillah nampaknya cukup mengerti. Ketika itu terjadi di masjid, saya dan beberapa sister Indonesia di masjid hanya senyum geli saja. 


 


 


Pulang ke rumah, saya bercerita ke suami, eh ternyata ….hal yang sama terjadi pula terhadap suami, dan yang menawarkan juga suaminya sister Saudi itu. Dia bialng ke suami….” Kamu khan tidak punya pekerjaan sekarang  dan ditambah pertayaan apakah kamu punya hutang? (Ya pula jawaban suami saya)…..jadi kami ingin memberikan zakat kami ke kamu.” sambungnya.Suami saya rupanya lebih halus cara menolaknya dibanding saya, dia bilang tanyakan dulu kepada yang ahli/imam saja, apakah saya memang layak menerima? Saya memang sedang tidak bekerja full time tapi saya punya pekerjaan part time juga istri saya bekerja full time. Demikian penjelasan suami. Akhirnya brother tersebut pun tidak memaksa suami saya untuk menerima.


 


 


Esoknya saya ketemu sister itu lagi dan dia bertanya siapa ya yang bisa saya kasih sedekah? Saya pun memberi referensi dan juga tawaran kalau mau saya bisa salurkan ke Indonesia. Ada sebagian masyarakat yang perlu di Indonesia tetapi tidak semuanya. Nggak tahu kenapa saya koq menambahkan  penjelasan” tidak semuanya” mungkin ego saya berbicara dan ingin diakui bahwa tidak semua orang Indonesia miskin lho!!!!! Astagfirullah…mudah-udahan tidak tercatat sebagai suatu kesombongan….Suami saya pun memberikan solusi yang sama bagi brother itu, sehingga dia menitipkan uangnya untuk disedekahkan ke Indonesia.


 


 


Tetapi ketika di rumah …..saya berpikir …..Ya Allah beginikah nasib keluarga Indonesia di mata orang asing???? Tentu saja tidak oleh semua orang asing. Mungkin pandangan seperti itu lebih banyak di Timur Tengah. Saya tidak marah sama para TKI yang dikirim ke Timur Tengah, bukan salah mereka citra bangsa Indonesia jadi begini…..para TKI itu bahkan pahlawan devisa…mereka menyumbangkan penghasilan bagi kesejahteraan bangsa Indonesia di tanah air. Tak ada niat mereka menjatuhkan bangsa….niat mereka hanya menghidupi keluarga, menyekolahkan anak, membangun rumah untuk keluarga. Sederhana saja. Para pengirim tenaga kerja itu lah mengeksploitasi kaum tak berdaya tanpa berfikir dampak negatifnya.  Tapi saya pun tidak bisa protes atau komplain…karena saya pun tidak memberikan solusi alternatif, hanya satu yang pernah saya lakukan….saya tinggalkan pekerjaan saya di Indonesia …dan ikut mendampingi suami ke US semoga memberi lowongan pekerjaan terhadap yang lain.


 


 


Pas lebaran saya ketemu pembantunya keluarga Saudi itu dan bilang “Mbak, majikanku katanya mau ngasih zakat ama sedekah ama orang Indonesia tapi aku bilang, orang Indonesia  di sini nggak ada yang miskin kayak saya.”


 


Ya Allah saya koq lupa dan tidak mengingatkan supaya lebih baik dikasihkan ke pembantunya saja, insha Alah lebih bermanfaat, mereka punya anak-anak yang harus disekolahkan. Duh saudara sebangsaku ….maafkan saya ……koq saya tidak mengingatnya.

4 comments:

  1. Duh ... iya tuh, kok bisa lupa sama sang "khodimat" asal Indonesia itu?

    ReplyDelete
  2. Mungkin karena ngasih gaji dianggapnya udah cukup kali.

    ReplyDelete
  3. Aduuuuh...jadi miris nih daku! Sama juga sih, 1998 sampai 2000 adalah tahun-tahun ketika saya sering makan hati kalau pergi ke LN. Ada rasa malu jadi orang Indonesia ihik-ihik...Waktu di Jepang, misalnya, saya nggak berusaha koreksi kalau ada orang mengira saya dari Malaysia hehehehe. keterlaluan yah?

    ReplyDelete
  4. Kalau aku sich nggak malu mbak ...jadi sewot ama orang-orang yang ngirim TKW itu lohhhhh koq ya membantu bangsa sendiri lha pakai cara merendahkan bangsanya ya.....tapi tenag aja .....rendah di mata orang belum tentu di mata Allah swt

    ReplyDelete