Dalam setiap Ramadhan, orang-orang sering lebih bersemangat melakukan amalan. Begitupundi lingkungan saya. Suatu malam di sepuluh hari terakhir, seorang sister Saudi mendekati saya, Keukeu ini zakat mal saya buat kamu. Saya tidak kaget mendengar itu karena sebelum shalat tarawih, beberapa sister (sebutan untuk sesama muslimah di
Saya bilang sama sister Saudi, maaf bukannya saya tersinggung tapi saya bukan mustahiq, saya tak punya hak. Kata-kata itu meluncur saja lancar dari mulut tanpa berpikir apa iya saya bukan mustahiq????? Yang terpikir hanya alhamdulillah masih bias makan, minum, punya tempat berteduh dan sarana untuk bepergian…saya tak mau rakus Ya Allah. Saya mensyukuri semua nikmatMu ya Allah, sementara di tempat lain masih banyak yang susah untuk mendapat sesuap nasi. Saya katakana pula hal itu terhadap putrinya yang bahasa Inggrisnya lebih fasih dari ibunya. Alhamdulillah nampaknya cukup mengerti. Ketika itu terjadi di masjid, saya dan beberapa sister
Pulang ke rumah, saya bercerita ke suami, eh ternyata ….hal yang sama terjadi pula terhadap suami, dan yang menawarkan juga suaminya sister Saudi itu. Dia bialng ke suami….” Kamu khan tidak punya pekerjaan sekarang dan ditambah pertayaan apakah kamu punya hutang? (Ya pula jawaban suami saya)…..jadi kami ingin memberikan zakat kami ke kamu.” sambungnya.Suami saya rupanya lebih halus cara menolaknya dibanding saya, dia bilang tanyakan dulu kepada yang ahli/imam saja, apakah saya memang layak menerima? Saya memang sedang tidak bekerja full time tapi saya punya pekerjaan part time juga istri saya bekerja full time. Demikian penjelasan suami. Akhirnya brother tersebut pun tidak memaksa suami saya untuk menerima.
Esoknya saya ketemu sister itu lagi dan dia bertanya siapa ya yang bisa saya kasih sedekah? Saya pun memberi referensi dan juga tawaran kalau mau saya bisa salurkan ke
Tetapi ketika di rumah …..saya berpikir …..Ya Allah beginikah nasib keluarga
Pas lebaran saya ketemu pembantunya keluarga Saudi itu dan bilang “Mbak, majikanku katanya mau ngasih zakat ama sedekah ama orang
Ya Allah saya koq lupa dan tidak mengingatkan supaya lebih baik dikasihkan ke pembantunya saja, insha Alah lebih bermanfaat, mereka punya anak-anak yang harus disekolahkan. Duh saudara sebangsaku ….maafkan saya ……koq saya tidak mengingatnya.
Duh ... iya tuh, kok bisa lupa sama sang "khodimat" asal Indonesia itu?
ReplyDeleteMungkin karena ngasih gaji dianggapnya udah cukup kali.
ReplyDeleteAduuuuh...jadi miris nih daku! Sama juga sih, 1998 sampai 2000 adalah tahun-tahun ketika saya sering makan hati kalau pergi ke LN. Ada rasa malu jadi orang Indonesia ihik-ihik...Waktu di Jepang, misalnya, saya nggak berusaha koreksi kalau ada orang mengira saya dari Malaysia hehehehe. keterlaluan yah?
ReplyDeleteKalau aku sich nggak malu mbak ...jadi sewot ama orang-orang yang ngirim TKW itu lohhhhh koq ya membantu bangsa sendiri lha pakai cara merendahkan bangsanya ya.....tapi tenag aja .....rendah di mata orang belum tentu di mata Allah swt
ReplyDelete